Agen Terpercaya
 
 
 
 
 
 
 
Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.
Waspada penipuan iklan. Klik di sini untuk melihat daftar penipu.

Last Man Standing (Season 2) by Maladanalec

Status
Please reply by conversation.

maladanalec

Senpai Semprot
Thread Starter
UG-FR
Daftar
9 Nov 2010
Post
779
Like diterima
46
Bimabet


Dear Suhu-Suhu, Agan-Agan, Brothers and Sisters of Semprot,

Kembali nubie coba post cerita bikinan nubie,

LAST MAN STANDING
(Season 2)

Yang merupakan kelanjutan dari LAST MAN STANDING



CERITA INI FIKTIF BELAKA

Semua kesamaan nama yang ada di cerita ini (nama tokoh, nama tempat, nama lembaga, nama perusahaan, dll), kesamaan waktu, peristiwa dan kejadian, dan kesamaan lain yang mungkin terjadi dalam cerita ini
hanyalah kebetulan saja.


Cerita ini mengandung unsur pornografi, kekerasan, dan bahasa yang tidak sopan.
Sangat tidak disarankan untuk anak anak yang masih di bawah 17 (tujuh belas) tahun.

Chapter List

Chapter 1
First Day, Final Year

Chapter 2
I'm The One

Chapter 3
I am your friend

Chapter 4
Chewy Tasty Spaghetti

Chapter 5
Conspiracy

Chapter 6
I'm In Love

Chapter 7
Lonely

Chapter 8
I Love You? Oh No!

Chapter 9
A Wish Comes True, Unfortunately

Chapter 10
So Be It

Chapter 11
Two Innocent

Chapter 12
Virgin or Bitch, Masculine or Sissy, They're just, Kids!

Chapter 13
Slap In The Face

Chapter 14
Three In One




 
Terakhir diubah:

maladanalec

Senpai Semprot
Thread Starter
UG-FR
Daftar
9 Nov 2010
Post
779
Like diterima
46
LAST MAN STANDING
Season 2
by Maladanalec


Chapter 1
Part 1

First Day, Final Year









Trisa memperhatikan daftar nama sebanyak empat puluh baris itu satu persatu. Memastikan namanya sendiri ada di daftar itu. Karena ini kelas terakhir yang ia lihat. Jika namanya tidak ada di daftar ini, berarti gadis itu harus lapor ke kantor administrasi, bahwa ada kesalahan sehingga namanya tidak tercantum.

“Hei, bengong aja!”, Trisa tiba-tiba merasa bahunya ditepuk. Seketika gadis itu menoleh.

“Eh elu, Ra..”, jawabnya sambil nyengir. “Biasa deh, nama gue susah banget dicari..”, jawab Trisa sambil kembali menatap baris demi baris cetakan yang tintanya hampir blur itu.

Tiara agak geli memperhatikan tingkah teman sekelasnya itu. Bukankah daftar nama ini di atur sesual abjad? Jadi mestinya tidak sulit jika Trisa ingin mencari namanya. Entah kenapa Trisa memang suka konyol begitu. “Woy, ogeb! Kenapa mesti juga dicari satu satu begitu? Ini kan pake abjad?” ujar Tiara sambil menunjuk salah satu nama. “Nama lu ada di sini!”

Trisa memutar bola matanya yang bulat sesuai dengan telunjuk Tiara. Dan ia memang menemukan namanya sendiri disana. “Eh iya”, ujarnya sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. “Bodoh betul..”, ujarnya pelan. Gadis itu merasakan darah berdesir di lehernya. Tengsin.

“Udah ah, masuk yuk..”, ujar Tiara sambil menarik salah satu tali tas ransel Trisa. Ditarik begitu, hampir saja Trisa jatuh terjengkang. Untung ia masih sempat menyeimbangkan tubuhnya, dan berbalik badan searah dengan Tiara. “Pelan-pelan euy, monster! Gue bisa jatoh, tahu!”

Tiara Kartika Puspita, bertemu dengan teman sebangkunya selama di kelas dua, Michaela ‘Trisa’ Patricia, ketika keduanya sama-sama baru masuk sekolah ini. Keduanya kala itu siswi baru, dan baru masuk di awal kelas dua tahun lalu. Sejak saat itu, keduanya langsung akrab. Dan kebetulan langsung dipasangkan oleh wali kelas mereka dalam satu meja.

Tiara, boleh dikatakan setali tiga uang dengan Trisa. Sama-sama cantik, sama sama lincah, sama-sama ceria. Namun dalam penampilan sehari-hari, Tiara bisa dikatakan lebih cewek, dengan membiarkan rambut panjangnya terurai lepas macam bintang iklan shampoo. Sementara Trisa, kalau memungkinkan, gadis itu pasti sudah memotong rambutnya seperti cowok. Namun beruntung Trisa masih punya hati, sehingga ia masih memanjangkan sedikit rambutnya. Jika tidak, satu satunya pembeda antara Trisa dengan cowok adalah : rok. Itupun bisa terlihat jika masih mengenakan seragam. Dan satu lagi tentu saja. Kedua gundukan buah dada Trisa yang memang tidak terlalu besar, tetapi cukup membedakanlah jika dibanding dengan dada cowok.

“Berdua lagi kita?”, tanya Trisa.

“Boleh aja sih”, jawab Tiara ragu-ragu, mencari bangku yang masih kosong. “Disana aja Tris!”, serunya sambil menunjuk salah satu meja, dimana sepasang bangkunya masih kosong. Sementara bangku bangku lainnya sudah terisi tas. Kemudian mereka berjalan menunju bangku tersebut, dan meletakkan tas masing-masing di salah satu bangku.

“Wah Tiara sama Trisa sekelas lagi!”, tiba tiba terdenar suara melengking.

“Eh Mitul disini juga!”, ujar Tiara ceria pada Mytha, juga classmate dari tahun lalu.

Mereka bertiga masih ngobrol sebentar sampai tiba-tiba teman teman sekelas mereka bergegas masuk dan duduk di bangku masing-masing. Baik Trisa dan Tiara akhirnya juga duduk.

“Padahal bukannya masih lima menit?”, bisik Tiara pada Trisa. “Kok udah pada masuk sih?”

“Ssst, Tiara, udah diem dulu. Nggak lihat tuh ada kepala sekolah?”

Kepala sekolah tampak sedang berbincang di depan pintu kelas dengan wali kelas mereka, Pak Wimbo. Dua murid perempuan tampak berada di antara mereka berdua.

“Murid baru tuh!”, ujar Tiara.

“Kayak kita dulu ya!”, seru Trisa.

“Semangat Pagiiiiiiii!”, seru kepala sekolah sambil berjalan masuk.

“Pagiiiiiiiiiiii!”, terdengar koor riuh rendah.

“Wah asik nih..”, ujar kepala sekolah sambil menggosokkan kedua telapak tangannya. Ia terlihat semangat sekali. Wartono - kepala sekolah mereka - memang begitu. Sangat kekeluargaan, jauh dari kesan angker. Tapi jika ketahuan ada yang melakukan kesalahan, tegasnya minta ampun. Tanpa kompromi. Itu juga berlaku buat para guru. Ia tidak segan menegur atau mengkritik dengan pedas, siapapun, baik murid atau guru, jika kedapatan melakukan kesalahan. Bahkan di kala upacara sekalipun dimana pasti dihadiri ratusan pasang mata. “Kelas baru, teman baru, semangat baru!”, seru Wartono.

“Pacar baru!”, seru seorang anak laki-laki. Diiringi dengan derai tawa sekelas.

Wartono tersenyum. Tidak tampak kemarahan sedikitpun di wajahnya. “Oh, masih ditolak Michaela juga ya, Michael?”, sindir Wartono. Kelas langsung riuh. Michael, pemilik suara tadi, wajahnya langsung merah semu. Sementara Trisa, yang dimaksud Pak Wartono dengan Michaela, tampak tenang tenang saja. Gadis itu malah nyengir. Seisi sekolah tahu, betapa inginnya Michael mendapatkan Trisa sebagai kekasihnya, tapi Michaela atau Trisa, selalu menolaknya. Dan semua juga tahu jika Michael sebenarnya sudah memiliki pacar yang bersekolah di sekolah lain.

“Like monkey, he is - won't let go of one branch until he’s got hold of the next”, ujar Wartono, menirukan dialog dalam sebuah film action lama. Sindiran kepada Michael. Kelas tiba-tiba terdiam. “Anyway”, ujar sang kepala sekolah. “Mr Wimbo, the floor is yours”, lanjutnya sambil mundur dua langkah.

Wimbo tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Yah, kalo saya sepertinya nggak perlu perkenalan lagi. Cuma mau ngomong kalo saya jadi wali kelas kalian. Dan berikutnya, dua murid baru, silahkan memperkenalkan diri mereka masing-masing” Ia kemudian menyeringai lebar. Sementara kedua murid baru itu tampak sedikit tercengang.

“Eh.. aduh.. Nur.. Nurul Prasetiya Amalia..”, ujar salah satu di antara mereka. Kemudian gadis itu tersenyum.

“Adelina Clarissa”, ujar yang lain. Ia hanya tersenyum tipis. Walaupun terlihat agak dipaksakan.

Nurul Prasetiya Amalia, atau Nurul, tampak seperti seorang gadis biasa-biasa saja. Terlihat dari gerak geriknya, ia gadis yang tenang. Berpenampilan seperti Tiara, lengkap dengan rambut panjangnya, hanya saja sorot matanya memang tidak terlalu tajam. Senyumannya sangat ramah. Terlihat seperti tipe anak perempuan yang tidak macam-macam.

Sementara Adelina Clarissa, atau Lina, terlihat sedikit angkuh. Dengan postur tegak tinggi langsing bagai pragawati, dan kepala terlihat agak mendongak, memang makin menguatkan kesan sombong. Terlihat semua barang yang ia kenakan, barang mahal semua. Sama seperti Nurul, gadis ini terlihat tenang, tetapi mempunyai sorot mata yang tajam menyelidik.

“Nah, selanjutnya, kalian duduk di…”, ujar Wimbo sambil mencari-cari bangku kosong. “Ah, kebetulan! Dibelakang Trisa sama Tiara aja kalian!”

Kedua gadis yang berdiri di depan masih mematung. Agak terlihat bingung.

“Bangkunya yang ini!”, seru Trisa sambil berdiri dan menunjuk bangku kosong dibelakangnya. Ia mengangguk dan tersenyum kepada Lina dan Nurul.

“Nah silahkan!”, ujar Wartono. Lina dan Nurul segera duduk di bangku tersebut. “Oke, carry on, Mr Wimbo!”, seru Pak Wartono sambil menyeringai.

“Aye sir..”, jawab Pak Wimbo. Sementara Pak Wartono langsung meninggakan kelas. “All right students, kayaknya kalo kenalan sambil berdiri, terus sebutin nama dan asal kelas, udah basi kali ya!”, serunya sambil melihat ke arah murid muridnya.

“Yang baru aja, Pak, suruh keliling kenalin diri atu atu!”, ujar salah seorang murid cowok. Detik itu juga suara tawa membahana.

“Destra, bukan begitu caranya kenalan sama cewek…”, ujar Pak Wimbo sambil tersenyum. Diikuti suara ‘buuuuuuuu’ kompak sekelas menyoraki Destra. “Kamu yang datengin mereka dong, terus kenalin diri kamu. Masa ceweknya yang suruh dateng ke kamu. Michael, ajarin dong temennya tuh!”, detik itu juga kelas kembali tenggelam dalam tawa. Michael seperti bahan celaan baru buat mereka.

“Ya sudah!”, seru Pak Wimbo pada akhirnya setelah tawa sudah sedikit mereda. “Hari ini nggak ada, seperti biasa hari pertama, nggak ada pelajaran!”, serunya. Kembali kelas riuh rendah. Pak Wimbo kemudian mengangkat tangannya. Seketika kelaspun sunyi. “Wah sakti. Mandraguna. Cuma angkat tangan kelas diam semua”, ujarnya diikuti sedikit tawa. “Bagikan ini”, lanjutnya sambil menaruh setumpuk kertas di meja guru. “Ini jadwal kalian ya!”

“Anak baru aja Pak suruh bagiin!”, kembali terdengar suara murid cowok. Tawapun kembali membahana.

Wimbo baru saja hendak membuka mulut, tetapi baik Nurul dan Lina keduanya berdiri. “Biar kita aja Pak. Bener. Sekalian kenalan”, ujar Nurul. Keduanya langsung berjalan ke depan, mengambil tumpukan kertas itu, dan mulai membagikannya satu persatu. Sementara Nurul memang menggunakan saat ini untuk mengenal satu persatu dari ‘calon’ teman-temannya, Lina membagikan kertas-kertas itu hampir tanpa ekspresi. Sesekali gadis itu hanya tersenyum dingin. Ketika mereka sampai di bangku yang diduduki Michael, cowok itu pun juga menyebutkan namanya.

“Michael”, ujarnya.

“Nurul..”, jawab Nurul. Tanpa berpikir gadis itu langsung menyunggingkan senyumannya yang ramah.

“Yang ini…”, Michael sebenarnya hendak berkata, ‘yang ini namanya siapa?’, kepada Lina. Tetapi melihat tatapan Lina yang sedingin es kutub utara, lidah Michael langsung kelu.

Akhirnya semua kertas itupun dibagi rata, kecuali bagian Trisa dan Tiara. Keduanya baru diberikan oleh Lina ketika mereka kembali ke tempat duduk. “Lina”, ujarnya pada Trisa dan Tiara. “Kamu Michaela?”, lanjutnya. Trisa bengong. Gadis itu bingung bagaimana Lina bisa mengetahui namanya. Padahal belum berkenalan.

“Tiara”, ujar Tiara sambil tersenyum ke arah Lina dan Nurul. Lina yang masih tersenyum kemudian mengangguk, sementara Nurul kembali menyebutkan namaya.

“Sekarang kalian boleh pulang!”, ujaer Pak Wimbo. Seakan diperintah, kelas yang berisi empat puluh orang itu langsung bubar. Tapi Trisa malah menarik lengan Tiara.

“Ra kita makan dulu yuk!”

“Makan?”, jawab Tiara.

“Heu’eueuh..”, jawab Trisa. “Laper nih. Eh kalian mau ikutan?”, ujarnya sambil berbalik badan ke arah Lina dan Nurul.

“Lu mau makan, Michaela? Pagi-pagi begini? Makan apaan?”, cerocos Lina. Ucapan Lina yang terus terang agak mengagetkan Trisa. Karena Trisa berpikir jika Lina ini gadis yang dingin, dan sulit diajak ngobrol.

“Trisa aja kali, Lin. Makan ketupat sayur mau?”, jawab Trisa.

“Buset! Nggak berat apa tuh, ketupat sayur pagi pagi, Tris?”, timpal Nurul.

“Dia tuh boros energi”, ujar Tiara. “Badan langsing tapi makannya banyak! karburator double barrrel!”

“Ah, cerewet banget sih kalian! Udah ikut aja, nanti gue bayarin deh semua!”, tukas Trisa kesal.

“Yah apa boleh buat kalo begitu”, ujar Nurul sambil nyengir. “Itung-itung bantuin temen”, lanjutnya.

“Alah, basa-basi!”, sergah Trisa. Yang lain tertawa saja sambil mengikuti gadis itu. Tidak sampai sepuluh menit, mereka berempat sudah duduk manis di dalam sebuah warung yang menjual ketupat sayur. Warung ini hanya berisi mereka berempat saja, karena baru buka.

“A.. gue nggak pesan ya Tris. Minum aja..”, ujar Lina.

“Lho katanya mau bantuin temen?”, goda Nurul.

“Siapa yang bilang begitu sih? Lu kan yang bilang tadi!”, tukas Lina.

“Wah mesinnya Lina v.v.t.i. ya?”, ujar Tiara. “Hemat energi”, lanjutnya sambil nyengir.

“Gue manusia normal, kali! Bukan robot!”, Lina mulai berpikir teman-teman barunya ini tidak berperasaan. Orang lagi kesal membara malah disiram bensin.

“Jyah enggak seru banget sih!”, ujar Trisa kesal. “Masa gue makan sendirian?”

“Kayaknya gue juga kebanyakan deh, kalo mesti pagi-pagi makan sebanyak itu..”, ujar Nurul lirih sambil menatap piring yang berisi seporsi penuh ketupat sayur yang baru diletakkan di hadapan Trisa.

“Halah! Akhirnya Nurul nyerah juga! pake basa-basi bilang mau bantuin temen!”, Lina kembali buka mulut. Teman-temannya mulai menganggap Lina ini rewel.

“Satu porsi kita makan berdua aja gimana?”, tanya Tiara pada Nurul.

“Eh?”, ujar Nurul sambil menatap Tiara. “Boleh?”, lanjutnya seperti gadis lugu.

“Bang! Satu porsi lagi, sama piring kosong satu!“, tukas Trisa. “Tinggal pesan aja susah banget!”

“Tahu nih, Nurul…”, ujar Tiara.

“Lho, takutnya nanti lu kurang, kalo bagi dua sama gue…”, ujar Nurul. Tatapan mata gadis itu menyiratkan jika ia memang mengatakan yang sebenarnya, tidak ada maksud apa-apa.

Tiara bengong. Astaga si Nurul ini, kadang kadang lucu, kadang kadang lugu. Nurul pasti tipe cewek yang tingkah lakunya ‘lurus-lurus saja’, pikir Tiara. Tiara makin yakin akan pendapatnya setelah pesanan mereka datang. Nurul dengan patut membagi rata ketupat sayurnya. Dan memberikan bagian Tiara dengan piring yang masih bersih. Sedangkan piring semula untuk Nurul sendiri.

“Hehehe… Nurul kayaknya rapi banget ya, bagiin ketupat buat Tiara aja rapi banget. Udah siap jadi isteri kayaknya..”, gurau Trisa. Teringat akan Alia yang menikah pada saat kelulusan. Sebenarnya gadis itu merasa biasa saja dengan apa yang dilakukan Nurul. Karena ia sudah biasa melakukannya juga. Terlebih lagi, ia dulu juga bekerja sebagai pelayan kantin milik mendiang ibunya. Jadi soal tata menata makanan di atas piring, sudah bukan merupakan hal asing baginya.

“Iya emang!”, seru Lina menimpali. “Lihat tuh kelihatan Nurul orangnya penurut banget!”

Nurul hanya tersenyum, seperti biasa. “Nggak ada kaitannya kali”, ujarnya. “Bukannya cewek emang harus bisa hal-hal kecil begini? Masa nanti baru mau belajar waktu mau married?”lanjut gadis itu. Membuat ketiga gadis yang mengelilingi Nurul merasa seperti ditikam jantungnya.

“Wah pasti lu jago masak Rul!”, seru Tiara terkagum-kagum.

Nurul menatap Tiara dengan lembut. “Nggak jago kok. Tina Nordstrom, atau Anna Olson tuh baru jago. Kalo gue mah, paling bisa masak gitu-gitu doang!”, serunya.

“Anna… siapa tadi?”, ujar Trisa. Tetapi tidak ada yang mengacuhkannya.

“Tapi bisa kan?”, cetus Lina penasaran. “Pasti sering masak bareng sama nyokapnya!”

Nurul berpaling ke arah gadis yang juga sama sama anak baru itu. “Di rumah enggak ada Ibu..”, ujarnya lirih. “Ibu sudah meninggal. Gue tinggal berdua sama Ayah”

Baik Trisa, Tiara, dan Lina semuanya seperti berhenti bernapas. Mereka serentak menatap Nurul lekat-lekat.

“Eh.. maaf Rul.. gue nggak tahu… maaf..”, Lina yang pertama buka mulut. Itupun terbata-bata karena merasa tidak enak hati. Setelah itu hening.

“Loh, kok jadi, jadi, jadi diam semua sih?”, sergah Nurul sambil mengibaskan tangannya. “Gue nggak apa-apa kok. Itu kejadian sudah lama sekali. Jangan dibesar besarkan!”

“Pastes aja Nurul kelihatan rapi banget tata makanannya. Sama aja kayak gue, Nyokap gue juga udah nggak ada!”, seru Trisa. Ia sengaja berucap yang bagi sebagian orang akan dinilai keterlaluan, semata-mata untuk mencairkan suasana.

Tapi di luar dugaan, trik Trisa berhasil. Nurul mengangguk. “Nah, bener kan, biasa aja kali, nggak usah dibesar-besarin”, ujarnya.

Penuh perhatian Lina menatap kedua teman barunya, Trisa dan Nurul. “Jadi kalian beres beres rumah sendiri, nyuci baju sendiri, dan nyiapin makanan juga buat Bokap?”

Nurul mengangguk. “Iya, siapa lagi kalo bukan gue, coba? bayar pembantu mahal, gaji Ayah nggak cukup buat bayar pembantu”

“Aku eh.. dulu pernah juga begitu, eheheee… bahkan jadi pelayan kantin juga pernah, dari SMP”, Trisa menimpali ucapan Nurul apa adanya. Sambil mencari kata-kata yang tepat. “Dulu aku tinggal berdua sama Mama. Dan Mama punya kantin, eh, warung makan deh..”, lanjut gadis itu. “Tapi sekarang, aku tinggal sama Papa setelah Mama meninggal. Dan bisa dikatakan, aku, eh, lebih beruntung karena Papaku menyewa pembantu..”

“Wah, kalian hebat ya!”, ujar Lina ambigu. Tanpa bisa menutupi kekagumannya.

“Iya, jangan kayak aku”, setus Tiara. “Baru belajar masak waktu abis married. Belum lagi beres-beres rumah, ah ribet!“

“Lu bilang apa tadi Ra? Married?”, tanya Trisa memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

“Uh-huh..”, jawab, Tiara sambil menunjukkan cicin yang melingkar di jari manis kanannya.

“What?”, sergah Trisa. “Lu udah nikah? Kapan Ra? Sama siapa? kenapa nggak bilang-bilang sih?”, berondong Trisa sementara Nurul dan Lina hanya terbengong-bengong.

Tiara tersenyum. “Nantilah aku ceritain, ya, sama kalian semua. Tapi nggak sekarang! Ceritanya panjang, girls..”

“Lu nggak hamil kan?”, tanya Trisa penasaran. Tapi Tiara diam saja. Ia terlihat tidak akan menjawab pertanyaannya. “Lagi trend kali ya, masih SMA udah pada nikah. Kak Alia sama Kak Dimas nikah abis lulusan kemaren. Kak Kyran sama Kak Karina malah nikah waktu naik kelas tiga”, ujar Trisa lirih. “Sama aja kayak lu, Ra”. Tapi Tiara masih diam. Seperti ada yang dipikirkannya.

“Michaela…”, ujar Nurul lembut.

“Trisa”, jawab Trisa membetulkan.

“Trisa. Mungkin jangan nanya nanya ini dulu deh..”, tutur Nurul ketika ia melihat ekspresi wajah Tiara. Bathin Nurul merasakan sesuatu yang aneh. Tiara seperti menutupi sesuatu. Sesuatu yang terasa getir. Walapupun jika mau jujur sebenarnya Nurul juga kaget mendapati teman barunya ternyata baru saja menikah. Insting remajanya memberontak ingin mengorek keterangan apapun dari Tiara. Terutama tentang, tentang, apa yang sering disebut orang-orang dengan hubungan intim, hubungan seksual. Dalam hal ini bisa dikatakan Nurul termasuk ‘gadis lugu’ yang lumayan terbelakang soal ‘praktikum’ seks. Gadis itu sangat memegang teguh tradisi kuno. Walaupun tentu saja, secara tekstual, tentu saja Nurul tahu hubungan seksual itu masuknya penis cowok ke vagina cewek. Dan si cowok mengeluarkan spermanya di dalamnya. Dan si cewek seperti keenakan ditusuk tusuk macam begitu. Setidaknya seperti itulah yang dilihat Nurul dalam film porno. Sekali-kalinya dalam hidup gadis itu. Tapi apakah itu benar? Bukannya kalau sering sering seperti itu akan hamil? Terus, bukankah itu dilarang? Bukankah cewek harus menjaga keperawanannya sampai nanti ia menikah? Kenapa banyak yang sudah berhubungan intim sebelum menikah? Begitulah pertanyaan pertanyaan yang sering muncul di benak Nurul.

“Woy, abis ngomong kenapa bengong!”, tegur Trisa sambil menepuk bahu Nurul. Nurul seketika kaget, seperti baru menyadari sesuatu.

“Tapi, astaga! Lu lu pada hebat semua ya!”, tukas Lina tidak tahu waktu. “Ada yang jago ngurus rumah, jago masak, sekarang malah ada yang udah nikah!”

“Apaan sih ini anak”, jawab Tiara geli. “Biasa aja kali!”, lanjutnya. “Emang lu enggak pernah bantuin beres beres rumah, apa?”, secara halus Tiara mengalihkan topik pembicaraan dari pernikahan dirinya menjadi pekerjaan rumah tangga.

Lina menggeleng.”Nggak. Nyokap juga nggak pernah. Semua pelayan yang ngerjain”

“Beda..”, ujar Trisa. “Orang kaya…”, lanjutnya. Trisa secara tidak sengaja malah membantu Tiara. Trisa sebenarnya juga sama saja dengan Lina. Dengan kehidupannya yang sekarang, ia tidak perlu mengotori tangannya yang berjari halus dan lentik untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Semua sudah dilakukan oleh pelayan pelayan yang disewa David.

“Aih, ngawur dah, Michaela!”, seru Lina.

“Trisa”, ujar Trisa sambil tertawa berderai. Mereka masih mengobrol sambil menghabiskan porsi ketupat masing-masing. Kecuali Lina, tentu saja. Ketika Trisa hendak mempertanyakan pernikahan teman sebangkunya karena menganggap suasana sudah kembali cair, tiba-tiba suami dari Tiara malah muncul di warung.

“Lho, Mas dateng dari mana?”, ujar Tiara ketika melihat suaminya. “Kok tahu aku ada disini, Mas?”, wajah Tiara tiba-tiba berubah cerah.

“Dateng dari langit”, ujar lelaki ganteng itu sambil nyengir. “Bau badan kamu kecium dari jarak seratus meter Ra”, jawab yang ditanya sambil nyengir di sambut tawa cekikikan tiga orang gadis yang dihadapannya. Tiara hanya cemberut. “Eh, ini temen temen kamu ya?”, ujarnya retoris sambil mengulurkan tangannya ke arah ketiga teman Tiara. “Anton”, lanjutnya menyebutkan namanya. Trisa, Lina, dan Nurul pun bergantian menjabat tangan yang kekar itu sambil menyebutkan nama masing-masing.

Anthony ‘Anton’ Pramuditho, terlihat berusia 25 tahunan. Setidaknya menurut Lina. Postur badannya yang tinggi dan tegap, serta agak beorotot membuat gadis itu yakin jika Anton rajin berolah raga, atau setidaknya fitness di gym. Kulitnya yang berwarna agak gelap menandakan pemuda itu sering berada di luar. Tidak macam cowok-cowok ‘cantik’ seperti bintang sinetron Korea. Senyuman Anton yang penuh perhatian cukup membuat gadis yang paling dingin terhadap cowok seperti Lina terenyuh, entah kenapa. Potongan rambutnya yang cepak membuat cowok itu makin ganteng. Baik Nurul atau Trisa juga berpikir yang sama. Bahwa cowok yang juga suami dari Tiara itu, very, very, very, good looking. Tapi mereka hanya ngobrol sedikit, sebelum kemudian Tiara pamit pulang, meninggalkan mereka bertiga di warung ketupat sayur.

“Kenapa ya, si Tiara married cepet cepet. Sama polisi juga”, ujar Lina sambil menyeruput habis es teh manis nya.

“Polisi? Wah kok lu tahu, Mas Anton itu polisi, Lin?”, tanya Nurul sambil menyuap potongan terakhir ketupat sayurnya.

“Iya, lu tahu darimana sih? Tadi juga lu bisa nebak nama gue Michaela. Kenalan kan juga belum”, cerocos Trisa.

Lina nyengir. Gadis itu mendenting dentingkan es yang tersisa di dalam gelasnya. “Gimana gue bisa tahu kalo cowok itu polisi? Yah feeling aja gue rasa. Postur. Gaya bicara. Gaya salaman. Gaya mengangguk dan mengangkat tangan seperti memberi hormat waktu ketemu kita barusan. Tapi asal tebak aja sih, siapa tahu gue salah“

“Terus, nama gue, tahu darimana Lin?”, kejar Trisa.

Lina tidak segera menjawab, ia memandang Trisa lurus lurus. “Michaela..”, ujarnya. “Nah itu, lu selalu naikin alis waktu denger nama ‘Michaela’ dipanggil”, tutur Lina. “Dari situ gue tahu nama lu itu Michaela”

“Wah hebat!”, seru Trisa sambil bertepuk tangan. “Eh, tapi Lin, di kelas tadi kan lu di belakang gue. Gimana caranya negilihat mata gue?”

“Haduuuh, Michaela..”, Lina mendengus kesal.

“Trisa”, ujar Nurul.

“Bagusan Michaela, daripada Trisa”, ujar Lina sambil nyengir. “Tris, kalo lu gerakin otot wajah, seperti naikin alis, pasti otot belakang kepala lu gerak jug walaupun sedikit. Nah, itu yang gue lihat dari belakang”

“Masa sih?”, tanya Trisa sambil menaik-naikkan alis nya. “Eh iya bener”, Trisa menyeringai tak jelas.

“Eh, kita pulang sekarang yuk!”, ujar Nurul tiba-tiba. “Mumpung masih pagi, gue mau belanja sekalian. Gue mau masak buat Bokap!”, serunya.

“Heh? Oh okelah gadis rumah tangga, kita pulang!”, seru Trisa sambil nyengir.

“Jyah dia bilang gadis rumah tangga”, jawab Nurul sambil tertawa. “Iya deh, ehm.. mantan cewek kantin!”, serunya.

Ketiga gadis itu tertawa. Trisa segera membayar pesanan mereka semua. Dan setelah bertukar nomor telepon dan pin BB, mereka bertiga akhirnya berpisah untuk pulang ke kediaman masing masing.

Tanpa ketiga gadis itu sadari, gerak gerik mereka tengah di awasi oleh seseorang pemuda yang duduk di halte dengan jarak tidak lebih dari sepuluh meter dari situ. Tidak menarik perhatian, laki-laki itu sempat membeli minuman dingin dari pedagang asongan yang mangkal di halte itu. Dan dengan tidak terburu-buru, seperti layaknya seorang yang menunggu bis, ia baru menghabiskan isi minuman dinginnya setelah ketiga gadis itu naik kendaraan umum. Ia terus duduk di bangku halte, dan kemudian meraih telepon selularnya dan menghubungi seseorang.

“Pak. Dia ketemu orang lain. Sepertinya polisi”, ujar si pemuda. Ia tampak terdiam beberapa saat. Tanpa berkata kata lagi ia memutuskan hubungan.

To Be Continued
 
Terakhir diubah:

maladanalec

Senpai Semprot
Thread Starter
UG-FR
Daftar
9 Nov 2010
Post
779
Like diterima
46
LAST MAN STANDING
Season 2
by Maladanalec


Chapter 1
Part 2

First Day, Final Year









“Ih kenapa sih, Mas pake jemput-jemput aku segala?”, ujar Tiara sambil menggandeng erat tangan suaminya. Mereka berdua baru saja turun dari angkot. Dan sudah sekarang tengah berjalan di jalan sempit yang diapit rumah rumah kecil yang berdempet dempet.

“Lah, Ra, aku kan cuti”, bukannya sudah aku bilang dari kemarin?”, jawab Anton sambil menggelitik telapak tangan Tiara. “Emang nggak boleh ya, jemput kamu?”, tanya Anton jahil. “Pasti takut ketahuan cowoknya deh!”

“Ih ngaco!”, sergah Tiara sambil mencubit kecil lengan Anton. “Tapi emang Polisi boleh cuti ya?”

“Buset!”, sergah Anton. “Masa iya polisi nggak boleh cuti? Kita manusia juga kali, bukan robot!”

Tiara cekikikan mendengar dengusan suaminya. Akhirnya mereka berdua membelok ke sebuah rumah tua bercat putih kusam dimana gerbangnya tertutup rapat.

“Kuncinya di kamu kan?”, tanya Anton.

“Mas, jangan main-main deh!”, Tiara langsung memasang muka masam.

“Loh beneran kok!”

Tiara diam saja. Ia tahu suaminya hanya jahil. Gadis itupun cemberut tanpa dibuat buat.

Anton sontak tertawa terbahak-bahak melihat wajah Tiara. Ia langsung mengeluarkan kunci gembok dari saku celana jeansnya. “Jangan marah Ra..”, bujuknya. Sementara Tiara masih ngambeg. “Hehehe, jujur ya Ra, aku sukaaa banget ngelihat kamu ngambeg begini…”, cerocosnya riang sambil mencubit hidung Tiara. Sementara Tiara seperti baru saja menelan magma gunung berapi.

“Iiiiiiih, Mas apaan sih!”, tukas Tiara sambil menepis tangan Anton. Bergegas ia masuk setelah Anton membuka gerbangnya. Kemudian ia membuka pintu depan rumah itu. Gadis itu terkejut mendapati pintu depan rumahnya tidak dikunci. “Maaaaas! Aduh, pintu depan kok nggak dikunci sih? Kalo ada maling gimana coba!”, berondong Tiara bak mitraliyur.

“Hah? eh, sorry, sorry, kayaknya tadi aku lupa deh!”, seru Anton sambil menepuk dahinya.

“Hiiih, si Mas mah lupa melulu! Polisi apaan tuh!”, seru Tiara sambil masuk ke dalam rumah. Segera ia duduk di salah satu kursi disitu, melepas sepatu dan kaus kakinya. Dengan bertelanjang kaki, Tiara melangkah masuk ke kamar, meletakkan tas sekolahnya yang hanya berisi satu buku, karena hari ini memang hari pertama sekolah. Hari perkenalan saja.

“Ra..”, Anton memanggil Tiara dengan perlahan.

“Ya?”, terdengar Tiara menjawab dari dalam kamar. Detik berikutnya gadis itu muncul dari balik pintu. “Kenapa Mas?”

“Aku laper..”

“Hah? astaga! Belum makan ya? eh, Roti abis?”, seru Tiara sambil bergegas ke dapur. Memang belum ada satupun masakan yang dimasak gadis itu pagi ini. Panci-panci kosong melompong. Beruntung masih ada nasi putih di magic jar, walaupun tidak banyak, hanya sekitar dua piring. “Yah, paling bisa masak nasi goreng aja nih Mas. Itupun pake bumbu instan”, ujar Tiara bingung. “Nggak apa apa?”

“Sip!”, seru Anton sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.

Gadis itu pun mengangguk. Tanpa menunggu lagi, ia langsung menyalakan kompor dan meletakkan wajan kosong di atasnya. Untung saja wajannya bersih, jadi ia dapat langsung menggunakannya. Tanpa melihat Tiara meraih satu sachet margarin, kemudian mencuatkan sedikit isinya di atas wajan yang mulai berasap. Bunyi mendesis seketika terdengar seiring dengan wangi margarin yang terbakar memenuhi rumah yang kecil itu. Tiara mengabaikannya sejenak, sementara ia membuka sachet lainnya yang berisi bumbu nasi goreng. Tanpa menunggu buih margarin yang mencair lenyap dari wajan, gadis itu langsung menuangkan seluruh bumbu itu ke wajan. Bunyi mendesis semakn keras, sekaligus menyeruakkan aroma sedap menggoda. Menerbitkan air liur siapapun yang mengendusnya. Sementara tangan mungil Tiara dengan lincah memasukkan nasi di wajan, Anton malah memeluk isteri imutnya itu dari belakang.

“Eh, Mas!”, sergah Tiara tersentak karena gadis itu tidak menyangka bakalan dirangkul dari belakang.

“Tiara…”, bisik Anton di telinga gadis itu. “Aku sayang kamu..”, lanjutnya sambil mengecup telinga isterinya. Sementara tangannya mulai nakal meremas buah kembar Tiara yang masih terbungkus rapi dengan kemeja OSIS.

Tiara sedikit salah tingkah. Tubuhnya tiba-tiba seperti dialiri listrik. “Mas, jangan macem-macem! Salah salah nih wajan bisa kebalik, batal makan kita deh!”

“Terusin aja masaknya sayang…”, bisik Anton lagi sementara kedua tangannya sudah turun ke pinggang Tiara. Kemudian ia melepaskan kancing rok gadis itu sehingga rok seragam itu langsung jatuh di lantai. Sambil menciumi leher Tiara, Anton mulai meremas pantatnya yang masih terlindung celana dalam berwarna putih.

“Mas.. jja.. jangan main-maih ah..”, Tiara sebisa-bisa menahan gejolak tubuhnya sendiri, sambil mengalihkan perhatiannya dengan mengaduk-aduk tak tentu arah nasi goreng yang sedang dimasaknya.

Anton tidak menjawab. Ia hanya berjongkok, sambil menurunkan celana dalam Tiara. Sontak gadis itu memekik kaget, dan mencoba berbalik badan.

“Ssst Tiara, nggak apa-apa, terusin aja masaknya, Ra”, bisik Anton sambil menyelipkan punggung jari telunjuknya di celah intim Tiara.

“Mas.. aduh.. jangan Mas.. aku…”

“Terusin aja masaknya Ra!”, bisik Anton tegas. Tiara pun terpaksa menurut. Setengah mati menyelesaikan masakannya sementara liang vaginanya mulai bereaksi aneh karena sentuhan Anton.

Anton menodorong sedikit punggung Tiara, meminta gadis itu membungkuk sedikit. Tiara menurut, membuat vaginanya yang bersih menyembul indah di bawah anusnya. Anton membuka celah itu dengan lembut, dan mulai menjilati bagian dalamnya yang berwarna kemerah merahan, cerah mengkilat menggairahkan.

“Mas, ampun deh..”, ujar Tiara dengan lutut bergetar. “Jangan disini, Mas.. aduh….”, seketika Tiara mematikan kompor, dan menumpukan kedua tangannya di meja kompor. Jilatan jilatan mesra suaminya membuat vagina gadis itu terasa geli. Dan sensasi manis mulai timbul dari keintimannya itu.

Anton tidak peduli. Dengan intens ia terus memainkan lidahnya, menari nari dalam celah kehormatan isterinya itu. Sementara jemarinya lincah mengusik klitoris Tiara yang dari tadi bersemayam dengan damai.

“Mas… aaaaaath… aaaagh…”, racau Tiara. Tangannya mencengkeram erat meja kompor. Sementara rasa ngilu mulai menjalar, berpusat di liang keintimannya.

“Eh, kok basah Ra..”, goda Anton, ketika melihat celah surga Tiara mulai meneteskan cairan gairah. Jarinya makin lembut memilin-milin klitoris Tiara. “Ih bandel ya, Tiara, kecil kecil udah bisa basah…”

“Mas… adduh… jja… jangan bbilang gituuu.. “, jawab Tiara terbata-bata. “Aa…adduh… ssssh…”

Anton tersenyum. Dengan lembut ia menarik tubuh Tiara dari belakang. Gadis itu patuh seperti domba jinak. Di depan meja makan Anton mendorong tubuh Tiara sehingga gadis itu membungkuk beralaskan meja. Membuat liang vaginanya terpampang dengan jelas, dengan mengilap basah.

Anton menyinkapkan kemeja seragam sekolah Tiara, meninggalkan sepasang pantat yang membulat indah. Anton meremas keduanya dengan lembut, sementara membuka celananya sendiri. Membebaskan burung berototnya yang sudah membusung. Sedikit ia menempelkan kepalanya ke celah yang sudah basah itu. Sementara Tiara membungkuk sejauh mungkin, bertumpu pada kedua lengannya di atas meja.

“Ra.. miss vi kamu… kayak puding strawberry…”, bisik Anton.

“Mas.. adduh… “

“Masukkin nggak Ra?”, goda Anton lagi, sambil terus mengusap usapkan kepala burungnya pada gerbang sangkar Tiara yang juicy itu.

“Uuugh…. i… iya…”

“Masukin nggak?”

“Mas…”

“Ayo bilang aja Tiara, jangan malu-malu begitu…”

“I.. ya.. mmm… ma.. masukin…”, seketika wajah Tiara merah padam.

“Apa Ra? Jangan?”

“mmm… mmmmhh… ., hanya itu yang terdengar dari mulut gadis terkasihnya.

Anton terkikik, dan mulai mendorong kejantannya masuk ke dalam selubung yang selembut puding yang diliputi vla bening yang manis milik Tiara itu.

“Oooooogh..”, Tiara melenguh indah. Vaginanya yang mungil dipaksa membuka menelan lontong yang berurat penuh darah itu. Membuat otot-ototnya intimnya seakan meronta, tetapi terpaksa menyerah tanpa daya, menyerah meninggalkan perih dan nikmat yang memadu.

“Aaaagh, Tiara… you’re great…”, Anton menggumam seiring kedua otot yang memiliki saraf paling sensitif di tubuh mereka akhirnya menyatu. Anton mendiamkan sejenak kejantanannya di dalam keintiman Tiara. Membiarkan saraf keintiman Tiara bekerja refleks memijatnya, bagaikan teraliri listrik, liang mungil Tiara memberikan kejutan kejutan lembut yang membuat Anton serasa terbang ke langit.

Tiara sendiri mulai tidak sabar. Merasa dirinya sudah diajak ke permainan yang indah, gadis itu tidak sudi dibiarkan menunggu di pinggir arena. Dengan refleks seadanya ia mulai menggoyang goyangkan pinggulnya. Membuat selubung keintimannya bergesek lembut dengan silinder otot kekasihnya. Memberikan rangsangan hebat pada jutaan sel sensor sensitif yang dimiliki keintiman gadis itu.

“Aaaaaaagh, Mas…”, Tiara sedikit mendongak dengan matanya setengah terpejam. Pinggulnya seperti bergerak sendiri. Menggesek kejantanan suaminya dengan keintimannya.

Anton sadar sepenuhnya dengan gerakan isterinya itu. Tapi ia ingin memainkan peranannya sendiri. “Nah kan, Tiara nakal… gerak gerak sendiri..”, ujar Anton jahil. Ia tahu isterinya itu masih polos sehingga pasti malu mengekspresikan keinginannya sendiri.

“Ma.. maaf Mas..”, jawab Tiara, sesuai dengan perkiraan Anton. Saking lugunya Tiara malah minta maaf.

“Jangan ulangin ya…”, ujar Anton, sambil nyengir menahan tawa. Sementara kejut-kejut vagina Tiara semakin intens terasa pada kejantanannya.

Anton mulai bergerak, perlahan memudurkan pinggulnya. Kemudian dengan cepat mendorong pingulnya lagi sehingga liang lembut Tiara kembali melahap kejantanannya.

“Enak Ra?”, kembali Anton jahil.

“… … eegh…..”

Anton kembali memompa vagina Tiara, kali ini mulai cepat. Sementara tangannya bertumpu pada pinggang gadis itu, Anton mempercepat gerakannya, memaju mundurkan pinggulnya. Mengaduk aduk pudding straweberry kenyal Tiara, dengan berlumuran vla gairah gadis itu. “Aaaaagh… Tiara… nnn… nice.. gadis kecil… ooogh…”, Anton mulai meracau.

ctek ctek…. ctek ctek.... ctek ctek…. … ctek ctek…. ctek ctek.... ctek ctek….

hanya itu yang terdengar selama beberapa saat. Sementara Anton masik mengaduk aduk liang keintiman Tiara, gadis itu hanya bisa pasrah, atau lebih tepat memasrahkan diri, hanya bisa menggigit bibir, teralu malu untuk bersuara. Sementara Anton malah mempercepat gerakannya.

clechh clechh clechh clechh… clechh clechh clechh clechh…

“Aaaagh… Mas… aaaaaagh…. Adduhh…uuuuuugh… Mas… uughhhhh”, tanpa sadar, Akhirnya Tiara merintih.

“E.. enak ya.. Rrrr Ra? Hayo… bbbandel ya…”, Anton masih sempat menjahili isterinya, walaupun sebenarnya dirinya sindiri sudah terbakar gairah.

“Aaaaagh…. Mas… ssssssshh….” Tiara tidak peduli dengan ejekan suaminya yang jahil. Ia terus saja merintih tanpa bisa mengendalikannya. Anton memeluk Tiara, menyusupkan kedua tangannya sejauh mungkin ke dalam kemeja gadis itu. Mencari kedua gunung mungin tiara yang masih tertutup bra putih.

Tubuh Tiara menggeliat tiba tiba seakan di sengat lebah ketika Anton tanpa peringatan meremas kedua bikit kenyal miliknya dengan kuat. Pemuda itu merasa tidak perlu membuka bra Tiara, karena tangannya melesak paksa didalamnya, memilin-milin kedua puting Tiara dengan ganas, .

“Maaaaash… agh.. agh.. agh.. aduuuuuuuuhh… uuugghhh… sak… sakit… aaaadh… aaaaaatth…”, Tiara masih meracau. Jemarinya mencengkeram meja dengan ganas, sementara tubuhnya menggelinjang luar biasa. Suaminya masih mengaduk aduk liang mungilnya, berbarengan dengan tangan kasarnya meremas remas payudara miliknya dengan liar dan penuh nafsu. Menyakitkan memang bagi Tiara, tapi sensasi dari keintimannya juga memberikan semacam penawar rasa sakit itu.

“Ti.. Tiara… sayang…. Aaaagh… great… “, Anton mulai meracau, seiring dengan tubuh Tiara yang lembut semakin menyatu dengannya, menyerah pasrah tidak berdaya tanpa syarat dalam kekuasaannya, memberikan kepuasan surga duniawi yang tiada tara.

clechh clechh clechh clechh… clechh clechh clechh clechh…

“Aaaaaaagh… Mas… uudaah…..”, tubuh Tiara mulai menegang. Tangannya makain mencengkeram kuat, merasakan aliran aneh ke seluruh tubuhnya.

“Eeegh… egh… egh.. egh…”, Antonpun seakan bergerak sendiri. Sudah lupa segala.

clepp clepp clepp clepp clepp clepp clepp clepp clepp clepp clepp clepp…

“Aaaagh… Ra…. Ooooogh….. “Anton mengerang tak jelas, sementara penisnya makin cepat membombardir vagina Tiara seperti meriam kapal di tengah medan perang yang berkecamuk.

“Aaaaaaaaaaaash…. aaaaaaaaaaaash… udah Masssssssh… udaaaaaagh…”, Tiara merintih panjang, seiring tubuhnya menegang hebat, menjadi kaku bagai patung, sebelum mengejut kejut bagai diterjang puluhan peluru.

Anton merasakan batangan kejantanannya terhisap hebat dalam keintiman Tiara. Untuk beberapa saat ia seperti membeku, tidak bergerak karena dirinya seperti tersambar petir sensasi luar biasa dari celah intim isterinya itu. Liang mungil itu berkontraksi, menghisap, memijit burung berototnya dalam waktu bersamaan, membuat Anton tidak bisa menahan diri lagi. Seketika kejantanannya memuntahkan ciran cintanya, membanjiri liang intim Tiara yang tengah melahap batangannya dengan ganas.

Anton memeluk isterinya dari belakang. Sementara Tiara seperti boneka yang terlempar di atas meja. Dengan kedua kaki yang terjuntai hampir tak bisa menahan bobotnya sendiri. Lemas. Lemas. Lemas. Keduanya tidak berkata-apa-apa untuk beberapa saat. Hanya desahan napas terengah-engah yang terdengar, keduanya perlahan kembali ke alam nyata, setelah tercampakkan dari alam erotis ciptaan mereka berdua sendiri.

“Mas…”, ujar Tiara akhirnya.

“I.. iya sayang…”

“Nnn… Na.. Nasi gorengnya… pasti udah dingin…”

“Ta.. tapi, puding nya masih anget kok, Ra..”



To Be Continued
 
Terakhir diubah:

speeza

Senpai Semprot
Daftar
1 May 2013
Post
783
Like diterima
16
Asiiiik...
Uda mau kluar...
Di tunggu yaaa critanya...
:hore:
 

better

Kakak Semprot
Daftar
4 Sep 2012
Post
199
Like diterima
4
lanjutkan gan..bangun apartemen..warung kopi...warteg+nasi padang
 

cheverboyz

Senpai Semprot
Banned
Daftar
5 Jan 2014
Post
876
Like diterima
3
User di-banned, maka konten otomatis dihapus.
User is banned, content is deleted automatically.
 

Jaka tunggara

Semprot Kecil
Daftar
16 Nov 2013
Post
55
Like diterima
1
Ikutan nangkring jg aaahhhh sma Master2 dsni sambil ngupi2 minum susu jahe biar josssssssss...
 

NastarPelangi

Pendekar Semprot
Daftar
26 Mar 2014
Post
1.979
Like diterima
188
"mas nasi gorengnya udah dingiin"

"tapi pudingnya masih anget kok"


pfffftttt :pandaketawa:

hahahaha hyaa suka suka :kk:
 

Dorbang

Semprot Holic
UG-FR
Daftar
9 May 2013
Post
319
Like diterima
0
Lokasi
Jawa Timur
Saya juga ingin menikmati karya brada Mala yang season 2 ini ah... :baca:

Seperti biasa, penjiwaan karakter perempuannya TOP. :jempol:

Btw, yang ceritanya si Mella sudah tidak ada backup nya ya sist Mala. wkwkwkwkwkwk
 
Status
Please reply by conversation.
Jav Toys
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Top
We are now part of LS Media Ltd